BUDAYA

Pesut Mahakam: Senyum Permata Sungai Kalimantan yang Terancam Sirna?

Redaksi Habar Etam Penulis Utama
12 March 2026 Tanggal Terbit
3 Menit Estimasi Baca
Pesut Mahakam: Senyum Permata Sungai Kalimantan yang Terancam Sirna?

Dikenal sebagai 'smiling dolphin', Pesut Mahakam bukan sekadar ikon fauna Kalimantan Timur, melainkan penjaga keseimbangan ekosistem air tawar yang kini berada di ambang kepunahan akibat himpitan industri dan kelalaian manusia.

Sungai Mahakam bukan sekadar aliran air yang membelah daratan Kalimantan Timur; ia adalah rumah bagi salah satu makhluk paling unik di dunia, Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris).

Satwa yang sering dijuluki sebagai 'smiling dolphin' ini memiliki sejarah panjang yang terekam sejak tahun 1972, ketika tokoh pers Oemar Dachlan pertama kali mewartakan keberadaan lumba-lumba air tawar ini di harian Kompas.

Kala itu, penemuan ini menggemparkan dunia karena lumba-lumba air tawar hanya ditemukan di segelintir tempat di dunia, seperti Amazon dan China. Namun, keunikan ini membawa konsekuensi pahit.

Pada medio 1970-an hingga akhir 1980-an, pesut-pesut ini ditangkap untuk dijadikan atraksi di Ancol, Jakarta. Perjalanan ribuan kilometer dan perubahan lingkungan yang drastis menyebabkan banyak dari mereka mati karena stres. Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bahwa habitat asli adalah tempat terbaik bagi mereka untuk berkembang biak.

Secara biologis, Pesut Mahakam adalah keajaiban evolusi. Diperkirakan 'terjebak' di sungai dan pesisir sejak zaman es terakhir, mereka beradaptasi dengan lingkungan air tawar selama ribuan tahun.

Berbeda dengan lumba-lumba laut, pesut memiliki dahi dan moncong yang melengkung tumpul, memberikan kesan mereka selalu tersenyum. Namun, di balik senyum itu, populasi mereka terus merosot.

Data dari Yayasan Konservasi RASI menunjukkan penurunan dari 80 ekor di tahun 2020 menjadi hanya sekitar 67 ekor di tahun 2023. Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor kompleks, mulai dari penggunaan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan hingga polusi industri. Di Teluk Balikpapan, tumpahan minyak pada 2018 menjadi bukti nyata betapa rapuhnya ekosistem mereka terhadap kelalaian manusia.

Ancaman terbesar saat ini datang dari aktivitas industri batubara dan sawit yang masif di sepanjang Sungai Mahakam. Lalu lalang kapal ponton raksasa tidak hanya mencemari air dengan logam berat, tetapi juga mengganggu sistem navigasi pesut. Sebagai satwa yang mengandalkan sonar frekuensi tinggi untuk bergerak dan mencari makan, kebisingan dari mesin kapal menciptakan 'polusi suara' yang membutakan mereka secara akustik.

Danielle Kreb, peneliti dari Yayasan RASI, menekankan bahwa tanpa sonar yang berfungsi baik, pesut berisiko menabrak benda berbahaya atau gagal menemukan mangsa. Hal ini sangat krusial karena pesut memegang peran vital dalam rantai makanan.

Dengan berenang secara vertikal, mereka membantu sirkulasi plankton yang menghasilkan oksigen dan menjadi dasar kehidupan bagi ikan-ikan kecil yang menjadi sumber protein masyarakat lokal di Kutai Kartanegara dan sekitarnya.

Kehilangan pesut berarti kehancuran sistematis bagi ekosistem sungai. Jika predator puncak ini hilang, populasi ikan tertentu akan meledak secara tidak terkendali, mengganggu keanekaragaman hayati, dan pada akhirnya merugikan nelayan tradisional.

Perlindungan terhadap Pesut Mahakam bukan hanya soal menyelamatkan satu spesies, melainkan menjaga keberlangsungan hidup manusia yang bergantung pada Sungai Mahakam.

Meskipun regulasi seperti UU No. 5 Tahun 1990 sudah ada, implementasi di lapangan membutuhkan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan kesadaran generasi muda untuk memastikan bahwa 'senyuman' lumba-lumba air tawar ini tidak hanya menjadi legenda bagi anak cucu kita di masa depan.

Tag Konten: #BUDAYA
Bagikan:

Berita Terkait

Eksplor Lainnya →