Kalimantan Timur sering kali dikenal karena kekayaan sumber daya alamnya, namun di balik hutan tropis dan sungai Mahakam yang megah, tersimpan sebuah permata budaya yang tak ternilai harganya: Tari Jepen.
Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah narasi visual mengenai sejarah, identitas, dan spiritualitas Suku Kutai di Kutai Kartanegara. Sebagai salah satu tarian tradisional yang paling menonjol di wilayah tersebut, Tari Jepen mencerminkan bagaimana akulturasi budaya antara elemen lokal, pengaruh Melayu, dan nilai-nilai Islam dapat bersinergi menciptakan sebuah identitas yang unik dan berkelanjutan.
Sejarah mencatat bahwa pada masa lampau, Tari Jepen adalah sebuah bentuk hiburan eksklusif bagi kalangan bangsawan dan raja di Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Namun, seiring berjalannya waktu, tarian ini mengalami demokratisasi budaya, di mana ia mulai ditarikan oleh rakyat jelata sebagai ungkapan kegembiraan dalam berbagai acara sosial, mulai dari pesta pernikahan hingga upacara penyambutan tamu kehormatan.
Keunikan utama dari Tari Jepen terletak pada dinamika gerakannya yang penuh energi namun tetap menjaga kesopanan, sebuah karakteristik yang sangat kental dengan pengaruh Islam. Tarian ini biasanya dibawakan secara berpasangan atau berkelompok, yang melambangkan semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat Kutai.
Dalam perkembangannya, muncul dua jenis utama Tari Jepen, yakni Jepen Eroh dan Jepen Genjoh. Jepen Eroh dikenal karena gerakannya yang sangat dinamis, riuh, dan penuh semangat, mencerminkan kegembiraan yang meluap-luap. Sementara itu, Jepen Genjoh merupakan bentuk kreasi yang lebih modern namun tetap berpijak pada pakem tradisional.
Setiap gerakan dalam Tari Jepen memiliki filosofi tersendiri. Terdapat sekitar 13 ragam gerak dasar yang menjadi fondasi tarian ini, mulai dari gerak penghormatan sebagai simbol adab, gerak jalan, samba, hingga gerakan yang meniru aktivitas sehari-hari atau alam seperti langkah belaw, putar gasing, dan tendang kuda. Gerakan-gerakan ini tidak hanya menuntut ketangkasan fisik tetapi juga kepekaan terhadap ritme musik Tingkilan yang mengiringinya.
Tingkilan Kutai adalah nyawa dari pertunjukan ini. Musik ini menggunakan instrumen utama berupa gambus, sebuah alat musik petik dengan enam dawai yang berasal dari pengaruh Timur Tengah, serta ketipung atau kendang kecil yang memberikan aksen ritmik yang kuat. Lirik-lirik yang dinyanyikan dalam musik Tingkilan sering kali berisi syair-syair petuah, nasihat kehidupan, atau pujian kepada Sang Pencipta, menjadikannya sarana edukasi yang efektif bagi generasi muda.
Secara visual, Tari Jepen adalah sebuah festival warna. Para penari mengenakan pakaian tradisional Melayu yang cerah, sering kali dilengkapi dengan aksesoris seperti kipas atau selendang yang menambah estetika gerakan. Kostum ini dirancang untuk menutup aurat dengan sopan, sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang dianut oleh masyarakat Kutai.
Bagi Gen Z dan masyarakat umum saat ini, mempelajari Tari Jepen adalah sebuah cara untuk terhubung kembali dengan akar budaya di tengah gempuran modernisasi. Tari Jepen bukan hanya tentang masa lalu, ia adalah tentang bagaimana kita membawa nilai-nilai luhur seperti syukur, kerja sama, dan etika ke dalam konteks masa kini.
Di Kutai Kartanegara, upaya pelestarian terus dilakukan melalui festival-festival budaya dan integrasi seni ke dalam kurikulum pendidikan, memastikan bahwa dentuman ketipung dan petikan gambus Tingkilan akan terus bergema di tanah Kalimantan Timur untuk generasi yang akan datang.
Memahami Tari Jepen berarti memahami esensi dari menjadi bagian dari Kutai: sebuah masyarakat yang terbuka pada pengaruh luar namun tetap teguh memegang prinsip dan identitas aslinya.