Di tengah riuh rendah kemajuan teknologi digital, seorang pria bernama Norsyamdani berdiri teguh sebagai penjaga tradisi Begasing di Kutai Kartanegara. Melalui komunitasnya, ia berusaha menghidupkan kembali permainan tradisional gasing Kutai yang telah ada sejak zaman Kerajaan Mulawarman, sebuah warisan budaya yang kini berada di ambang kepunahan.
Permainan tradisional bukan sekadar hiburan masa lalu, melainkan identitas yang mengakar pada sejarah sebuah bangsa. Di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, eksistensi Gasing Kutai kini menjadi perhatian serius bagi para pegiat budaya. Norsyamdani, pria berusia 39 tahun asal Mangkurawang, menyadari bahwa upaya pelestarian yang ia lakukan mungkin terasa terlambat di tengah gempuran ponsel pintar.
Namun, baginya, mempertahankan warisan leluhur adalah kewajiban moral yang tidak bisa ditawar. Dani, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa permainan gasing di Kutai, atau yang dikenal dengan sebutan Begasing, memiliki akar sejarah yang sangat dalam. Konon, permainan ini sudah dikenal sejak masa Kerajaan Mulawarman, hasil dari asimilasi budaya dengan para pedagang Melayu yang singgah di nusantara.
Gasing sendiri merupakan salah satu mainan tertua di dunia yang ditemukan di berbagai situs arkeologi, berfungsi tidak hanya sebagai alat permainan anak-anak dan dewasa, tetapi dalam sejarahnya juga pernah digunakan untuk keperluan meramal nasib.
Keunikan Gasing Kutai terletak pada varietas dan sistem permainannya yang kompleks. Masyarakat Kutai mengenal setidaknya enam jenis gasing yang masing-masing memiliki karakteristik fisik dan fungsi yang berbeda. Keenam jenis tersebut adalah buah pelele, tungkul, pendada, buong, perangat, dan gasing bengor.
Dari sekian banyak jenis tersebut, gasing tungkul menjadi yang paling ikonik karena bentuknya yang lebih tinggi dibanding jenis lainnya dan sering dimainkan di lingkungan kerajaan pada masa lampau. Struktur fisik gasing ini dirancang untuk berputar pada satu titik pusat dengan keseimbangan tinggi, menyerupai pergerakan angin puting beliung yang stabil.
Pemilihan jenis kayu dan presisi pembuatan menjadi kunci utama agar gasing dapat berputar dalam durasi yang lama, sebuah teknik yang kini mulai jarang dikuasai oleh generasi muda di Kutai Kartanegara.
Tak hanya variasi bentuk, cara memainkan Gasing Kutai juga memiliki protokol tersendiri yang disebut dengan berbagai istilah teknis. Dani memaparkan tiga sistem permainan utama yang lazim dipraktikkan. Pertama adalah 'beragaan' atau adu ketangkasan. Kedua adalah 'adu tumbuk' atau 'adu pukul beregu', di mana gasing lawan harus dipukul hingga berhenti atau keluar dari area. Ketiga adalah 'bekurai', sebuah kompetisi ketahanan putar untuk melihat gasing mana yang mampu bertahan paling lama di permukaan tanah.
Setiap sistem permainan menuntut penggunaan jenis gasing yang spesifik; misalnya, untuk sistem 'betumbuk', pemain biasanya menggunakan gasing jenis pelele yang memiliki ketahanan fisik lebih kuat saat berbenturan. Kedalaman teknis ini menunjukkan bahwa Begasing bukan sekadar memutar kayu, melainkan sebuah olahraga yang memerlukan strategi, konsentrasi, dan pemahaman fisik yang mumpuni.
Meski Pemkab Kukar sering menyatakan dukungan terhadap budaya, Dani merasa dibutuhkan terobosan kreatif agar Gasing Kutai tidak hanya menjadi pajangan di museum. Ia menyarankan agar setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadikan permainan gasing sebagai alternatif olahraga rutin setiap hari Jumat. Dengan menjadikan Begasing sebagai bagian dari gaya hidup instansi pemerintah dan pendidikan, minat masyarakat diyakini akan kembali tumbuh secara organik.
Upaya Norsyamdani melalui komunitasnya adalah sebuah alarm bagi semua pihak bahwa kekayaan intelektual lokal seperti Gasing Kutai berada dalam risiko besar. Tanpa adanya regenerasi dan dukungan sistematis dari pemerintah daerah, identitas Kutai sebagai lokasi kerajaan Hindu tertua di Indonesia perlahan akan kehilangan warna aslinya.
Dani berharap, melalui edukasi yang konsisten dan desakan kebijakan yang tepat, gasing tradisional tidak akan punah. Baginya, setiap putaran gasing adalah simbol keberlanjutan sejarah yang harus terus dijaga agar tetap berputar di tanah Kutai Kartanegara, melintasi zaman yang kian canggih namun seringkali melupakan akar budayanya sendiri.