Di tengah riuh rendah musik digital dan gelombang pop global, suara petikan dawai gambus dari pedalaman Kalimantan Timur tetap setia menyapa telinga. Tingkilan, sebuah simfoni tradisional masyarakat Kutai, bukan sekadar alunan nada, melainkan sebuah narasi panjang tentang identitas, etika, dan cara hidup yang telah bertahan melintasi berbagai generasi.
Musik Tingkilan merupakan salah satu manifestasi kebudayaan paling autentik yang dimiliki oleh masyarakat Kutai di Provinsi Kalimantan Timur. Secara etimologis, istilah Tingkilan memiliki akar yang sangat dalam pada bahasa Kutai lama. Kata ini terbentuk dari dua komponen bunyi yang onomatopeik, yaitu 'Ting' dan 'Kil'. '
Ting' merepresentasikan resonansi suara senar yang dipetik, sementara 'Kil' merujuk pada aksi fisik memetik instrumen gambus tersebut. Gabungan keduanya melahirkan istilah 'Ningkil', sebuah kata kerja yang menggambarkan aktivitas bermain musik dengan penuh perasaan. Dalam sejarahnya, Tingkilan bukan hanya sekadar hiburan pengisi waktu luang.
Zaman dahulu, musik ini adalah sarana komunikasi sosial yang sangat vital. Fenomena 'betingkilan' atau tradisi bersahut-sahutan antara penyanyi pria dan wanita menjadi inti dari kesenian ini. Dalam sesi betingkilan, para pemain tidak hanya bernyanyi, tetapi juga beradu ketangkasan dalam menyusun pantun secara spontan.
Pantun-pantun ini seringkali memuat pesan moral yang mendalam, nasihat tentang kehidupan, ajaran agama, hingga ungkapan perasaan cinta yang dibalut dengan humor yang segar dan cerdas. Keunikan utama Tingkilan terletak pada instrumen utamanya, yaitu gambus. Gambus Kutai memiliki karakteristik fisik dan suara yang berbeda dengan gambus dari daerah lain.
Dipadukan dengan ketipung dan kendang, harmoni yang dihasilkan menciptakan suasana yang hangat namun tetap dinamis. Teknik memetiknya memerlukan keterampilan khusus agar resonansi suara tetap terjaga di tengah tempo yang kadang berubah-ubah. Seiring berjalannya waktu, Tingkilan mengalami evolusi fungsional.
Jika dulu ia lebih banyak terdengar di lingkungan istana atau pergaulan terbatas, kini Tingkilan menjadi elemen wajib dalam berbagai seremoni penting seperti upacara pemberian nama bayi (tasmiyah), pesta pernikahan, hingga pengiring tari Jepen yang merupakan tarian pergaulan rakyat Kutai. Namun, tantangan besar muncul di era digital ini.
Dominasi musik modern seperti rock, pop, dan dangdut seringkali membuat generasi muda merasa asing dengan akar budayanya sendiri. Minat untuk mempelajari teknik 'Ningkil' yang benar mulai menyusut, dan yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya penampilan Tingkilan yang dilakukan secara asal-asalan tanpa memperhatikan standar artistik yang tinggi.
Untuk menyikapi hal ini, para penggiat seni di Kalimantan Timur mulai melakukan inovasi dengan mengolaborasikan Tingkilan dengan alat musik modern seperti biola, cello, saxophone, hingga gitar elektrik. Kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan warna baru yang lebih relevan bagi telinga Gen Z tanpa menghilangkan esensi dasar dan karakteristik suara khas Tingkilan itu sendiri.
Melalui sanggar-sanggar seni yang tersebar di Kutai Kartanegara, upaya revitalisasi terus digalakkan agar musik ini tidak hanya menjadi pajangan di museum, melainkan tetap hidup sebagai denyut nadi kebudayaan yang dinamis. Melestarikan Tingkilan berarti menjaga kewarasan budaya kita di tengah arus globalisasi yang seragam.
Ini adalah tentang bagaimana kita menghargai warisan leluhur yang telah menitipkan pesan-pesan bijak melalui setiap petikan senar gambus.