BUDAYA

Nasi Bekepor: Menelusuri Jejak Kuliner Raja Kutai dan Filosofi di Balik Kelezatannya

Redaksi Habar Etam Penulis Utama
12 March 2026 Tanggal Terbit
3 Menit Estimasi Baca
Nasi Bekepor: Menelusuri Jejak Kuliner Raja Kutai dan Filosofi di Balik Kelezatannya

Salah satu primadona gastronomi dari Bumi Etam adalah Nasi Bekepor, hidangan nasi liwet khas Kutai Kartanegara yang dahulu hanya tersaji di meja makan para raja, kini hadir sebagai simbol identitas budaya yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Nasi Bekepor bukan sekadar hidangan pengenyang perut; ia adalah narasi hidup tentang kejayaan Kesultanan Kutai Kartanegara. Secara tampilan, Nasi Bekepor menyerupai nasi liwet, namun memiliki profil rasa dan teknik pembuatan yang jauh lebih kompleks.

Hidangan ini lahir dari rahim geografis daerah aliran sungai Mahakam yang subur, di mana rempah-rempah, sayuran seperti kangkung dan talas, hingga buah terong asam tumbuh dengan liar dan melimpah. Kelimpahan inilah yang membentuk karakter kuliner Kutai yang dominan dengan rasa asam, pedas, dan gurih yang kuat.

Sejarah mencatat bahwa Nasi Bekepor dulunya adalah menu eksklusif yang hanya diproduksi di dapur kerajaan. Proses memasaknya yang rumit dan penggunaan bahan-bahan pilihan menjadikannya simbol status sosial pada masanya.

Namun, lebih dari sekadar makanan mewah, Nasi Bekepor juga memegang peranan penting dalam sejarah religi di Kalimantan Timur. Ketika Sultan Kutai Kartanegara memeluk agama Islam, hidangan ini bertransformasi menjadi media akulturasi budaya. Setiap penyajiannya seringkali dikaitkan dengan tradisi lokal yang telah disusupi nilai-nilai Islami, menjadikannya sarana dakwah yang efektif dan lembut melalui jalur kuliner.

Nama 'Bekepor' sendiri diambil dari bahasa Kutai yang berarti diputar-putar atau digoyang-goyangkan. Istilah ini merujuk pada teknik memasak yang sangat unik. Nasi dimasak di dalam sebuah wadah yang disebut 'kenceng' atau kuali besar di atas bara arang.

Saat nasi mencapai tingkat kematangan setengah matang, berbagai bumbu seperti daun kemangi, cabai, perasan jeruk nipis, minyak sayur, dan potongan ikan asin dimasukkan. Di sinilah momen krusial terjadi: kenceng tersebut harus diputar-putar secara manual di atas api agar bumbu meresap sempurna dan nasi tidak hangus di satu sisi saja. Teknik ini dipercaya menghasilkan tekstur nasi yang pulen, sedikit berminyak, namun tetap kokoh dan tidak lembek.

Menariknya, proses 'bekepor' ini juga diselimuti mitos dan filosofi yang kental. Konon, sembari memutar kenceng, sang juru masak disarankan membaca shalawat atau menyebut nama seseorang yang dirindukan.

Masyarakat setempat percaya bahwa ritual ini dapat mempercepat pertemuan dengan orang yang dicintai tersebut. Di balik mitosnya, praktik ini secara tidak langsung mengajarkan nilai kesabaran dan religiositas, mengubah aktivitas dapur menjadi momen kontemplasi yang spiritual.

Penyajian Nasi Bekepor tidaklah lengkap tanpa kehadiran pendamping setianya. Biasanya, hidangan ini disandingkan dengan Sambal Raja yang memiliki aroma jeruk nipis yang segar. Tak hanya itu, lauk pauk pendamping lainnya mencerminkan kekayaan hasil bumi Kalimantan Timur, seperti Daging Bumi Hangus (daging bumbu kecap pekat), Sayur Terung dengan Bawang Dayak yang menyehatkan, Ikan Jelawat, Gangan Asam Kukar yang dimasak dengan kepala ikan dan ubi manis, serta Gence Ruan yang berbahan dasar ikan haruan (gabus). Perpaduan ini menciptakan simfoni rasa yang tak terlupakan di lidah, memadukan aroma asap arang, kesegaran rempah, dan gurihnya ikan asin.

Di era modern ini, Habar Etam melihat Nasi Bekepor sebagai aset budaya yang harus terus dilestarikan. Meskipun kini dapat ditemukan di berbagai rumah makan di Kalimantan Timur, esensi dan cerita di balik pembuatannya tetap harus diedukasikan kepada generasi muda agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak luntur ditelan zaman.

Nasi Bekepor adalah bukti nyata bagaimana sebuah hidangan mampu menyatukan elemen alam, sejarah kerajaan, dan nilai-nilai ketuhanan dalam satu wadah kenceng yang diputar dengan penuh cinta dan kesabaran.

Tag Konten: #BUDAYA
Bagikan:

Berita Terkait

Eksplor Lainnya →