BUDAYA

Menguak Misteri Prasasti Yupa dan Kejayaan Kutai Mulawarman di Muara Kaman

Redaksi Habar Etam Penulis Utama
11 March 2026 Tanggal Terbit
3 Menit Estimasi Baca
Menguak Misteri Prasasti Yupa dan Kejayaan Kutai Mulawarman di Muara Kaman

Bagi Gen Z yang tumbuh di era digital, sejarah seringkali dianggap sebagai tumpukan kertas usang. Namun, mari kita bicara tentang Prasasti Yupa, sebuah artefak yang menjadi titik nol sejarah tertulis di Indonesia. Terletak di hulu Sungai Mahakam, tepatnya di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tujuh tiang batu ini bercerita tentang sebuah kerajaan besar bernama Kutai.

Prasasti ini bukan sekadar benda museum, melainkan bukti otentik bahwa nenek moyang kita telah mengenal sistem tulisan, struktur sosial yang kompleks, dan diplomasi spiritual yang tinggi sejak abad ke-5 Masehi.

Penemuan Yupa terbagi dalam dua fase penting: empat buah ditemukan pada tahun 1879 di bukit Brubus, dan tiga sisanya ditemukan pada tahun 1940. Ketujuh batu andesit ini kini menjadi harta karun nasional di Museum Nasional Indonesia.

Mengapa Yupa begitu spesial? Pertama, ia menggunakan aksara Pallawa Pra-Nagari dengan gaya 'box-heads' yang unik, menunjukkan pengaruh kuat dari India Selatan namun dengan adaptasi lokal yang kental. Bahasa yang digunakan adalah Sanskerta, bahasa intelektual kelas atas pada masanya, yang disusun dalam bentuk puisi indah bernama Anustub. Tokoh sentral dalam narasi Yupa adalah Raja Mulawarman.

Dalam Prasasti Muarakaman I (D.2a), kita diperkenalkan pada silsilah keluarga kerajaan yang sangat menarik. Ada Maharaja Kundungga, sang kakek, yang namanya masih kental dengan nuansa lokal Nusantara, menunjukkan transisi budaya yang sedang terjadi. Kemudian ada putranya, Aswawarman, yang dijuluki sebagai 'Vansakartta' atau pembentuk keluarga/dinasti, yang sering diibaratkan sebagai Dewa Matahari (Ansuman). Dan puncaknya adalah Mulawarman, raja yang membawa Kutai ke era keemasan.

Salah satu 'flex' paling legendaris dalam sejarah Indonesia tercatat pada Prasasti Muarakaman II (D.2b). Bayangkan, Mulawarman menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di sebuah tanah suci bernama Waprakeswara. Jika dikonversi ke nilai saat ini, jumlah tersebut setara dengan triliunan rupiah.

Ini bukan sekadar pamer kekayaan, melainkan simbol stabilitas ekonomi dan ketaatan spiritual. Masyarakat Kutai saat itu sudah terbagi dalam golongan terdidik yang terdiri dari Ksatria dan Brahmana, yang mendapatkan kedudukan terhormat. Tidak hanya sapi, Yupa juga mencatat pemberian 'gunung minyak', lampu, malai bunga, hingga tanah yang luas. Ini membuktikan bahwa Kutai Mulawarman memiliki sistem agraris dan peternakan yang sangat maju.

Muara Kaman saat itu kemungkinan besar merupakan pusat perdagangan internasional yang strategis di jalur maritim Nusantara. Meskipun nama 'Kutai' sendiri tidak tertulis secara eksplisit di dalam prasasti, nama ini diberikan oleh para ahli berdasarkan lokasi penemuannya.

Identitas kerajaan ini sebagai pionir peradaban Hindu di Indonesia tidak tergoyahkan. Setiap pahatan pada Yupa adalah pesan bagi kita semua bahwa Indonesia memiliki akar intelektualitas yang dalam.

Memahami Prasasti Yupa berarti memahami identitas kita sebagai bangsa yang dermawan, beradab, dan menghargai ilmu pengetahuan serta spiritualitas. Sebagai generasi penerus, menjaga memori kolektif tentang kejayaan di Muara Kaman ini adalah cara kita menghargai warisan luhur yang telah bertahan selama lebih dari 1.500 tahun.

Tag Konten: #BUDAYA
Bagikan:

Berita Terkait

Eksplor Lainnya →