Desa Pela di Kutai Kartanegara bukan sekadar titik kecil di peta pinggiran Sungai Mahakam. Ia adalah anomali demografi yang menakjubkan, saksi bisu sejarah pelarian perang masa lampau, dan kini menjadi garda terdepan pelestarian mamalia langka Pesut Mahakam. Simak bagaimana desa nelayan ini bertransformasi menjadi desa wisata edukasi yang krusial bagi ekosistem air tawar Indonesia.
Mengarungi Waktu di Tepian Mahakam: Pengantar Menuju Desa Pela
Bayangkan sebuah pagi yang berkabut di mana matahari perlahan menyingsing dari balik riak air sungai yang tenang. Suara mesin perahu ces (perahu motor tradisional) memecah keheningan, mengantarkan para nelayan lokal menuju perairan luas untuk mencari rezeki. Selamat datang di Desa Pela, sebuah permukiman eksotis yang terletak tepat di pinggir Sungai Mahakam, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Bagi masyarakat awam, mungkin nama desa ini belum sepopuler destinasi wisata raksasa lainnya di Indonesia. Namun, bagi para peneliti lingkungan, sejarawan lokal, dan generasi muda atau Gen Z yang peduli pada isu konservasi dan budaya, Desa Pela adalah sebuah laboratorium hidup yang menyimpan sejuta cerita, konflik, dan harmoni yang luar biasa.
Secara geografis, letak Desa Pela sangatlah strategis dan dikelilingi oleh lanskap alam yang memukau. Di sebelah utara, desa ini berbatasan langsung dengan Desa Muhuran. Jika kita melangkah ke arah selatan, kita akan disambut oleh wilayah Desa Sangkuliman. Di sebelah barat, terbentang pesona Desa Semayang dengan danaunya yang melegenda, sementara di sebelah timur berbatasan dengan Desa Liang Ulu. Posisi yang seolah 'terkepung' oleh perairan dan desa-desa pesisir lainnya ini membuat Desa Pela memiliki karakteristik geografis yang sangat khas. Keterikatan mereka dengan air bukan sekadar soal alamat, melainkan soal denyut nadi kehidupan, identitas, dan masa depan.
Anomali Demografi: 'Pulau' Banjar di Tengah Lautan Etnis Kutai
Satu hal yang paling menarik dari Desa Pela dan sering kali menjadi bahan kajian para sosiolog adalah struktur demografinya yang sangat unik dan bisa dibilang sebagai sebuah anomali budaya. Kecamatan Kota Bangun terdiri dari belasan desa, dan dari 12 desa yang ada di kawasan tersebut, mayoritas mutlak penduduknya adalah etnis Kutai, yang merupakan suku asli dan dominan di wilayah Kutai Kartanegara. Namun, Desa Pela berdiri tegak sebagai satu-satunya desa dengan mayoritas penduduk beretnis Banjar. Bagaimana mungkin sebuah komunitas Banjar bisa mendominasi satu titik spesifik di tengah kepungan tradisi dan budaya Kutai yang begitu kental?
Saat ini, masyarakat Desa Pela terbagi secara administratif ke dalam 6 Rukun Tetangga (RT). Di dalam ruang lingkup yang terbilang kecil tersebut, bermukim 172 Kepala Keluarga (KK) yang mencakup total 577 jiwa. Skala populasi yang intim ini menciptakan sebuah ikatan persaudaraan yang sangat kuat di antara warganya. Hampir setiap orang mengenal satu sama lain. Kehidupan sosial mereka berjalan dengan ritme gotong royong yang masih sangat murni. Perpaduan antara nilai-nilai Islam yang kuat—khas etnis Banjar—dengan kearifan lokal pesisir sungai menciptakan sebuah akulturasi budaya yang harmonis. Mereka hidup berdampingan dengan desa-desa tetangga tanpa pernah kehilangan identitas asli mereka sebagai 'Urang Banjar' di tanah Kutai.
Jejak Sejarah: Pelarian, Kemarau Panjang, dan Lahirnya Nama 'Pela'
Untuk memahami mengapa etnis Banjar bisa berada di sana, kita harus memutar waktu kembali ke masa lampau, menelusuri akar sejarah yang penuh dengan drama, perjuangan, dan kompromi. Sejarah terbentuknya Desa Pela tidak bisa dilepaskan dari kedatangan dua suku besar yang menjadi pionir peradaban di wilayah tersebut, yaitu Suku Banjar dan Suku Bugis. Kedatangan kedua suku ini didorong oleh motivasi yang sama sekali berbeda, namun pada akhirnya takdir menyatukan mereka di satu titik koordinat yang sama di pinggiran Sungai Mahakam.
Kisah Suku Banjar dimulai dari sebuah tragedi. Pada masa lampau, terjadi pergolakan dan peperangan besar yang melibatkan kerajaan di tanah Banjar (Kalimantan Selatan). Peperangan ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi juga memporak-porandakan tatanan ekonomi dan mata pencaharian masyarakat sipil. Merasa keselamatan dan masa depan keluarga mereka terancam, sekelompok masyarakat Banjar memutuskan untuk melakukan eksodus besar-besaran. Mereka mengarungi sungai dan lautan, merantau jauh ke arah utara hingga tiba di wilayah Kalimantan Timur. Mereka mencari tempat yang aman, tersembunyi, namun tetap menyediakan sumber daya alam yang cukup untuk bertahan hidup. Tempat yang mereka temukan adalah cikal bakal Desa Pela saat ini. Bagi komunitas Banjar ini, perpindahan tersebut adalah sebuah bentuk 'PELARIAN' dari kekejaman perang. Kata 'Pelarian' ini kemudian tertanam kuat dalam memori kolektif mereka sebagai identitas awal pemukiman tersebut.
Di sisi lain, kisah kedatangan Suku Bugis memiliki nuansa yang berbeda. Dikenal sebagai pelaut dan nelayan ulung yang tangguh, komunitas Bugis datang ke wilayah tersebut murni karena dorongan ekonomi dan ekspansi wilayah tangkapan ikan. Sungai Mahakam dan danau-danau di sekitarnya menjanjikan hasil air tawar yang melimpah ruah. Ketika Suku Bugis mulai menetap dan membangun kehidupan nelayan mereka di kawasan yang sama, alam memberikan sebuah tantangan yang berat. Terjadi musim kemarau yang sangat panjang. Cuaca menjadi sangat terik, sungai menyurut, dan udara terasa membakar kulit. Dalam bahasa Bugis, kondisi cuaca yang sangat panas ini disebut dengan istilah 'MaPELAi'.
Seiring berjalannya waktu, populasi di pemukiman tersebut semakin bertambah. Komunitas Banjar dan Bugis hidup berdampingan, saling berinteraksi, dan mulai menyadari perlunya sebuah identitas resmi untuk kampung halaman baru mereka. Tibalah saatnya bagi para tetua dan kepala suku dari kedua belah pihak untuk duduk bersama dalam sebuah forum musyawarah. Di sinilah terjadi sebuah negosiasi linguistik dan budaya yang sangat elegan. Kepala Suku Banjar bersikeras ingin menamai kampung tersebut dengan nama 'PELArian' untuk mengenang sejarah eksodus leluhur mereka. Sementara itu, Kepala Suku Bugis mengusulkan nama 'maPELAi' sebagai pengingat akan ketangguhan mereka bertahan di tengah cuaca panas yang ekstrem.
Perdebatan terjadi, namun kearifan lokal selalu menemukan jalan keluarnya. Daripada memaksakan kehendak satu pihak yang bisa memicu konflik horizontal, kedua kepala suku tersebut bersepakat untuk mengambil jalan tengah. Mereka menyadari bahwa kedua usulan nama tersebut memiliki satu irisan suku kata yang sama. Dari kata 'PELArian' bisa diambil kata 'PELA', dan dari kata 'maPELAi' juga terdapat unsur 'PELA'. Akhirnya, dengan jabat tangan dan kesepakatan yang mengikat, kampung tersebut resmi dinamakan 'PELA'. Sebuah nama singkat, padat, namun merangkum dua sejarah epik dari dua suku besar yang berbeda. Ini adalah pelajaran berharga tentang toleransi dan kompromi yang sangat relevan untuk dipelajari oleh Gen Z di era modern ini.
Denyut Nadi Nelayan: Menggantungkan Hidup pada Kemurahan Mahakam dan Semayang
Beralih dari sejarah, mari kita melihat realitas ekonomi masyarakat Desa Pela hari ini. Statistik menunjukkan sebuah angka yang sangat mencolok: hampir 95% masyarakat Desa Pela berprofesi sebagai nelayan air tawar. Ini bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan profesi turun-temurun yang menjadi tulang punggung perekonomian desa. Aktivitas penangkapan ikan ini sangat bergantung pada dua ekosistem perairan utama, yaitu Sungai Pela (anak Sungai Mahakam) dan Danau Semayang yang letaknya sangat berdekatan.
Kehidupan nelayan di sini sangat dinamis dan mengikuti ritme alam. Mereka menggunakan berbagai alat tangkap tradisional yang ramah lingkungan seperti rengge (jaring insang), bubu, dan pancing. Ikan-ikan endemik Sungai Mahakam seperti ikan toman, gabus, lais, jelawat, dan baung menjadi target tangkapan utama yang kemudian dijual ke pasar-pasar di Kota Bangun hingga ke Samarinda. Keberadaan Danau Semayang, yang merupakan salah satu danau terbesar di Kalimantan Timur, berfungsi sebagai 'kulkas alami' dan area pemijahan ikan yang memastikan stok sumber daya perikanan tetap terjaga. Namun, ketergantungan absolut pada alam ini juga membuat masyarakat Desa Pela sangat rentan terhadap perubahan iklim, fluktuasi debit air, dan ancaman pencemaran lingkungan. Kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas air bukan lagi sekadar teori ekologi bagi mereka, melainkan urusan hidup dan mati.
Pesut Mahakam: Sang Raja Air Tawar yang Kian Terancam
Berbicara tentang Desa Pela tidak akan pernah lengkap tanpa membahas ikon paling legendaris dari Sungai Mahakam: Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris). Pesut Mahakam adalah spesies mamalia air tawar yang sangat unik dan langka. Berbeda dengan lumba-lumba laut pada umumnya, pesut ini telah berevolusi selama ribuan tahun untuk beradaptasi dengan lingkungan sungai yang keruh dan berarus tenang. Mereka adalah predator puncak yang menyeimbangkan rantai makanan di ekosistem Sungai Mahakam.
Namun, realitas yang dihadapi oleh mamalia cerdas ini sangatlah memilukan. Pesut Mahakam saat ini masuk ke dalam kategori hewan yang sangat dilindungi (Critically Endangered) menurut status konservasi global. Berdasarkan data dan observasi terbaru, populasi Pesut Mahakam di seluruh daerah aliran sungai diperkirakan hanya tersisa sekitar 80 ekor saja. Angka ini merupakan lampu merah bagi dunia konservasi internasional. Ancaman terhadap pesut sangat beragam, mulai dari terjerat jaring nelayan (bycatch), polusi suara dari kapal-kapal ponton batu bara yang mengganggu sistem sonar mereka, hingga berkurangnya populasi ikan yang menjadi sumber makanan utama akibat degradasi habitat.
Di sinilah letak keistimewaan Desa Pela. Dari sisa 80 ekor pesut tersebut, sekitar 20 ekor di antaranya diketahui sangat sering melewati, mencari makan, dan bahkan bermain di jalur Sungai Pela. Perairan di sekitar desa ini rupanya menyediakan kedalaman air, arus, dan pasokan makanan yang ideal bagi kelompok pesut tersebut. Kehadiran pesut-pesut ini sering kali menjadi pemandangan magis yang bisa disaksikan langsung oleh warga dari teras rumah mereka yang menghadap ke sungai. Hubungan antara nelayan Desa Pela dan Pesut Mahakam adalah hubungan mutualisme yang dilandasi rasa hormat. Nelayan lokal memiliki kearifan tradisional untuk tidak memburu pesut dan sering kali menganggap kemunculan pesut sebagai pertanda baik akan datangnya gerombolan ikan.
SK Bupati 2019: Titik Balik Menuju Desa Wisata dan Kawasan Konservasi
Menyadari potensi alam, keunikan sejarah, dan urgensi penyelamatan ekosistem Pesut Mahakam, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara akhirnya mengambil langkah strategis dan bersejarah. Melalui Keputusan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 250/SK-BUP/HK/2019, Desa Pela secara resmi ditetapkan sebagai Lokasi Desa Wisata. Keputusan ini bukan sekadar label administratif biasa. Dalam diktum keputusan tersebut, secara spesifik dan tegas disebutkan bahwa Desa Pela dikembangkan sebagai desa wisata yang berbasis pada 'Wisata Sungai dan Danau dengan Ekosistem Mamalia Langka Pesut Mahakam'.
Penetapan ini mengubah paradigma pembangunan di Desa Pela secara drastis. Desa ini tidak lagi hanya dilihat sebagai sentra penghasil ikan, tetapi juga sebagai Kawasan Konservasi Perairan dan Kawasan Ekonomi Esensial (KEE). Konsep Kawasan Ekonomi Esensial ini sangat penting karena ia menjembatani dua kepentingan yang sering kali berbenturan: pelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Melalui KEE, masyarakat Desa Pela didorong untuk mengelola wilayah perairan mereka sedemikian rupa sehingga habitat Pesut Mahakam tetap lestari, sementara di saat yang sama, kehadiran pesut tersebut dapat mendatangkan nilai ekonomi melalui sektor ekowisata (eco-tourism).
Transformasi menjadi desa wisata ini melibatkan banyak pihak. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dibentuk dan diberdayakan oleh pemuda-pemudi lokal. Mereka mulai menyusun paket-paket wisata yang menawarkan pengalaman autentik mengarungi Sungai Mahakam dan Danau Semayang, edukasi tentang sejarah suku Banjar dan Bugis, serta tentu saja, wisata pengamatan Pesut Mahakam secara etis (dolphin watching). Aturan-aturan ketat mulai diberlakukan, seperti pembatasan kecepatan perahu bermotor di zona-zona tertentu, larangan membuang sampah ke sungai, dan kampanye penggunaan alat tangkap ikan yang aman bagi mamalia air.
Harapan Masa Depan: Panggilan untuk Gen Z dan Pelestarian Berkelanjutan
Kisah Desa Pela adalah sebuah narasi tentang ketahanan (resilience). Dari sebuah pelarian perang yang penuh ketakutan, bertransformasi menjadi kampung nelayan yang tangguh, dan kini berevolusi menjadi benteng terakhir pelestarian mamalia air tawar paling langka di Indonesia. Namun, perjuangan ini belum selesai. Penetapan SK Bupati hanyalah langkah awal dari sebuah maraton panjang konservasi.
Bagi Gen Z, khususnya di Kalimantan Timur dan seluruh Indonesia, Desa Pela menawarkan sebuah pelajaran nyata tentang pentingnya aksi lingkungan yang terintegrasi dengan kearifan budaya lokal. Isu kepunahan Pesut Mahakam bukanlah dongeng pengantar tidur; ia adalah realitas pahit yang sedang terjadi di depan mata kita. Oleh karena itu, dukungan terhadap Desa Wisata Pela harus terus digalakkan. Kunjungan wisata edukasi, kampanye digital melalui media sosial, hingga penelitian akademis sangat dibutuhkan untuk menjaga momentum positif ini.
Keberhasilan Desa Pela dalam mempertahankan identitas budayanya sekaligus menjadi pelindung bagi alam sekitarnya membuktikan bahwa manusia dan alam bisa hidup dalam harmoni yang saling menguntungkan. Mari kita pastikan bahwa nama 'Pela' tidak akan pernah menjadi sekadar sejarah pelarian masa lalu, melainkan sebuah pelarian yang sukses menuju masa depan yang lestari, di mana anak cucu kita kelak masih bisa melihat senyum Pesut Mahakam membelah riak air Sungai Mahakam yang legendaris.